Sajak rusak

Ia,

Sebuah doa dipegangnya takut-takut.
Entah apa, entah bagaimana.
Sebuah harapan digantungnya tinggi-tinggi.
Namun Ia tak cukup kuasa untuk melelainya di awang.

Ia tak cukup pijakan,
Ia tak cukup sayap.

Kepada tembok terlukis bercak lumut di depannya, Ia merisik.
Ia membisikkan sesuatu.
Sesuatu yang hanya Tuhan, tembok kumuh, dan dirinya yang mahfum.

Kota Sembab, 10.12.20

Komentar

Postingan Populer